Mimpi Penegakan Khilafah

Satu dasawarsa yang lalu, kata-kata heroik “Tegakkan Khilafah” terasa sangat dekat. Teman kuliah, kakak tingkat, anak BEM, Rohis, seolah kompak. Ikut demo dengan mengusung atribut salah satu kelompok.

Berbagai artikel dan diskusi pernah disodorkan ke depan mukaku. Beberapa hal dapat dipahami, namun sepertinya lebih karena perasaan se-identitas atas nama I.s.l.a.m. Sebagian besarnya adalah penolakan malu-malu tak terungkap karena merasa itu semua hanya uforia abstrak.

Ternyata perlu waktu setidaknya sepuluh tahun lebih bagiku untuk mencerna. Tentang Khilafah Islamiyah, tentang penerapan syariat Islam dalam kehidupan bernegara, tentang mimpi kembalinya kejayaan Islam di bumi.

Dan ternyata semuanya sederhana. Sesederhana tugas kita sebagai manusia yang lemah. Hanya perlu tunduk kepada aturan Tuhannya. Hanya cukup sabar meniti di atas jalan yang telah Allah gariskan.

Dan kini aku siap. Menjadi bagian dari tegaknya Khilafah ‘ala minhajin nubuwah, sebagai seorang Ibu. Semoga Allah mudahkan.

Advertisements

Karena Kita, KhalifatulArdh

bumi 2

Maka bekerja pun juga dalam rangka memakmurkan bumi. Kalau malah merusak bumi, itu sudah menyalahi tugas kita sebagai manusia. Tugas yang diberikan oleh atasan yang paling atas.

Maka, jika “mencari ridho Allah” masih terasa abstrak, kongkritkan dengan “memakmurkan bumi”. Yang berarti, dari bangun tidur sampai tidur lagi, sampai tidak bangun lagi, tingkah laku kita sudah DIATUR untuk memakmurkan bumi.

#SelfTalking

Berkah Sulit Menulis

Banyak ide dan bahan berkelebatan di kepala. Jemari terasa pegal, bukan karena mengetik, tapi menahan agar tidak mengetik. Kalaupun sudah terketik, dengan terpaksa dihapus lagi.

Menulislah. Apa saja. Biarkan aksara mengalir dengan bebas. Itu yang saya anut sebelumnya.

Membacalah. Apa saja. Agar kepala banyak isinya. Agar ada bahan untuk dikeluarkan menjadi tulisan.

Tetapi bukan itu semua ternyata.

write

Saya menulis banyak. Baca ulang, lalu hapus. Atau paling banter “Save Draft”. Ngeri sekali untuk mengarahkan kursor ke “Publish”. Terbayang tulisan bisa menjadi “dosa jariyah”. Terbayang di Pengadilan Akhirat nanti banyak yang menuntut karena terinspirasi buruk. Astaghfirullah.

Menulis adalah pertaruhan. Amal jariyah, atau sebaliknya.

Sadar bahwa ikhlas sulit diterapkan. Riya’ menggoda di depan mata. Ditambah isi tulisan hanya serupa dengan biji jagung yang gabug.

Maka tulisan ini dipublish sebagai pengingat diri. Bahwa diri ini pernah berpikir demikian. Mudah-mudahan selalu teringat. Jika luput, semoga ada yang mengingatkan. Mudah-mudahan selalu berhati-hati. Mudah-mudahan diridhoi Allah.

Suatu ketika, Umar bin Khattab r.a. bertanya kepada Ubay bin Ka’ab (apa hakikat taqwa).

Sahabat Ubay balik bertanya kepada Umar r.a. “Pernahkah engkau berjalan pada jalan yang penuh dengan duri?”

“pernah” jawab Umar r.a.

“Apakah yang engkau lakukan saat itu wahai Umar?” Tanya Ubay kembali.

Umar bin Khattab menjawab: “tentunya aku berjalan sangat hati-hati”.

Kemudian Ubay bin Ka’ab menjelaskan (itulah hakikat taqwa).

Lalu Umar r.a. pun memberikan definisi takwa “Takwa adalah berjalan di hutan dengan hati-hati”.

Pengawet Kebenaran

Seorang murid sengaja menempatkan duduknya persis di depan meja guru. Ada tanya mengganjal yang ingin dia sampaikan. Tanya yang mungkin sudah tumbuh sejak sewindu sebelumnya.

“Kok Ibu bisa suka pelajaran Sejarah?” itulah pertanyaannya. Si Murid sedang mencari alasan akan pentingnya belajar tentang masa lalu. Tentang kisah-kisah yang dianggapnya membosankan. Tentang apa guna ini semua, selain memenuhi apa yang dinamakan ku-ri-ku-lum.

Sang Guru belum berhasil memuaskan keingintahuan si Murid. Dan rutinitas yang membuat mati gaya pun terus berulang. Merangkum, yang anehnya mengapa setiap murid diwajibkan memiliki buku cetak jika harus dicatat ulang. Menghafal nama, tanggal, dan tempat, yang apakah ada guna lain selain untuk mengisi lembar jawaban ujian.

Dan si Murid mematikan perasaannya.

Lima belas tahun berselang…

Si Murid itu, saya sendiri, pelan-pelan mulai mendekati dan mencintai apa yang dulu di”grounded”nya dari kepalanya.

Karena inti dari Sejarah, bukan sekedar nama-tanggal-tempat. Sejarah adalah peristiwa dan pola pikir manusia. Sejarah bercerita tentang manusia itu sendiri, saya dan Anda semua. Karena sejarah adalah kita, manusia, maka kekacauan yang terjadi saat ini di bumi, polanya sama dengan berabad silam.

Sejarah mengungkapkan kebenaran. Yang perlu dipelajari dengan rendah hati. Bahwa apa yang selama ini diyakini, belum tentu begitu awal mulanya. Dan makhluk yang bernama Waktu, menjadi pengawet kebenaran itu sendiri.

Dari Sejarah kita menemukan kejayaan yang hilang, tentang tipu daya manusia terhadap sesamanya, tentang kegigihan untuk bangkit, dan tentang kemuliaan para suri tauladan.

Barangsiapa yang menguasai Sejarah, dia menguasai peradaban. Maka mempelajarinya perlu keluasan pandangan dan kerendahan hati, agar tidak tenggelam dalam Sejarah yang palsu.

Maka benarlah ungkapan “Dari masa lalu, kita belajar tentang masa depan.”

Yang Muda, Yang Menikah, Yang Berkah

Lahir-sekolah-kuliah-kerja-menikah.

Seolah sudah menjadi standar umum bagaimana hidup di bumi ini.

gambar dari : netnewstimes.com

Masih kecil kok sudah menikah? Gak kuliah dulu? Gak kerja dulu? Kapan jalan-jalannya? Dan yang paling klise menurut saya, Kapan beraktualisasi dirinya? Kapan menerapkan ilmu yang sudah didapat selama sekolah?

Seolah menikah adalah hambatan untuk berkarya.

Dan saya meyakini itu.

Dulu saat SMA, di pelajaran Bahasa Inggris ada debat menggunakan tema ‘Young Marriage’. Kami sekelas dibagi menjadi dua grup, satu pro, satunya lagi kontra. Saya termasuk yang kontra. Dan seingat saya, seluruh kelas kontra, yang akhirnya terpilihlah sebagian orang dengan terpaksa menjadi grup pro.

Kami mulai mati-matian melontarkan argumen mengapa pro dan kontra young marriage. Yang pro, beralasan, kalau sudah terlanjur hamil, ya mau gak mau harus menikah muda. -Di debat ini, saya mendapatkan kosakata baru : pregnant-

Yang kontra, mati-matian beralasan, pokoknya sekolah dulu. Kuliah dulu. Berkarya dulu. Dan itu semua tidak bisa dilakukan jika sudah menikah.

Dan saya termasuk orang yang meyakini itu. Dulu. Dulu, saat diri ini menyangka berenang dalam laut keilmuan, padahal sejatinya berenang dalam kubangan pemendekan akal.

Betapa bodoh dan malas berpikirnya saya. Hingga memutuskan mengikuti yang “baik” hanya dari apa-yang-sedang-keren saat itu. Tanpa mau bersusah-susah merenung lebih dalam, mengkaji lebih luas, apalagi mempelajari lebih banyak dari sudut pandang apa-yang-tertulis-di-KTP, Islam.

Siapa saya yang tidak mengindahkan Al-Qur’an? Bahwa dengan menikah, Allah akan menjadikan kaya lewat karunia-Nya (QS. An Nur : 32)?

Mengapa saya tidak belajar sejarah? Bahwa generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda. Dan mereka tetap berkarya, yang menjadi acuan sepanjang zaman.

Dan saya baru menyadari, bahwa menikah bukanlah garis finish kita beraktualisasi diri. Justru, akan lebih banyak hal yang bisa kita lakukan, bukan hanya untuk egoisme pribadi, tapi juga untuk keluarga, dan masyarakat. Bukankah itu jauh lebih baik? Dan bukankah akan jauh lebih berkekuatan dan bermakna, saat semuanya dilakukan selagi muda? Tidak ada kenakalan remaja di sana. Yang ada adalah pendewasaan diri. Dan bukankah semua dosa dan pahala akan kita tanggung sendiri saat memasuki usia baligh?

Sekarang, posisi saya sebagai orang tua. Mungkin terlalu dini jika berpikir tentang pernikahan buah hati yang saat ini masih balita. Namun saya yang pernah tenggelam dalam ‘kejahiliahan pemikiran’, tidak akan rela membiarkan buah hati terjerumus dengan kejahiliahan yang sama. Maka sebagai orang tua, saya harus terus belajar dengan rendah hati. Dengan keteguhan niat. Dengan harapan. Yang dengannya Allah akan meneguhkan posisi kami di jalan-Nya, meskipun saat kebanyakan orang berlaku sebaliknya.

Pendidik Terbaik

Mengapa saya harus percayakan pendidikan anak-anak kepada orang lain, yang saya sendiri belum tahu kompetensinya? Maka, saya sendiri yang akan menjadi pendidik mereka.

Sepenggal dari cerita teman saya itu terus berputar-putar di otak. Sudah waktunya memang saya berfikir serius tentang pendidikan anak. Namun belum pernah seserius ini.

Pertanyaannya sederhana. Model pendidikan apa yang cocok untuk anak saya?

Banyak  pilihannya. Dari sekolah negeri, negeri berbasis agama, swasta, swasta berbasis agama, sampai homeschooling. Dengan segala macam embel-embelnya. Terpadu, internasional, global, dll. Begitu juga lembaga pendidikan juga tidak kalah meriah. Seolah-olah, semuanya berlomba untuk menjadikan anak pintar, percaya diri, maju, berprestasi, dan segala macam efek baik lainnya.

Saya tidak akan mengatakan yang satu lebih baik dari yang lain. Karena setiap anak dan keluarga memiliki kondisi yang berbeda-beda. Apa yang mengusik saya adalah, bagaimana kita memandang pendidikan anak saat ini.

Dulu, ketika saya yang menjadi anak-anak, pendidikan formal di sekolah adalah keharusan. Orang tua saya tidak lulus SD, dan hanya bisa membaca-menulis-menghitung standar. Jangan tanyakan soal integral dan derivatif.

Dengan saya disekolahkan formal, pendidikan di-outsource-kan ke orang yang kompetensinya lebih tinggi. Jelas, secara eksplisit, pendidikan guru-guru saya pasti lebih tinggi. Soal akhlaq dan perilaku, tidak banyak yang perlu dikhawatirkan. Jaman saya, anak-anak masih aman untuk “diliarkan”.

Dulu, umumnya hanya ayah saja yang berkarir. Maka alasan untuk menyekolahkan anak adalah untuk mendapat ilmu, dan justifikasi legal tentunya. Bukan sebagai sekalian-penitipan-anak.

Jaman sudah berubah. Dengan pendidikan tinggi yang diperoleh pada jaman saya, membuat sayang jika tidak “dimanfaatkan”. Jadilah menukarkan waktu, tenaga, ilmu ke dunia industri yang mampu memberi imbalan “layak”. Semakin banyak yang ditukarkan, semakin banyak imbalannya. Karir pun juga sudah bukan dominasi laki-laki. Perempuan, dengan alasan emansipasi, juga ikut memeriahkan percaturan karir.

Akibatnya, banyak yang kemudian menjadi orang tua dua-duanya berkarir. Pengasuhan anak dioutsourcekan. Pendidikan anak juga tidak mau kalah. Biar aman, yang full day sekalian. Orang tuanya? ya tadi itu, menukarkan waktu, tenaga, ilmu untuk imbalan layak sehingga bisa bayar outsourcenya.

Tidak serta merta mengatakan bahwa ayah-ibu berkarir itu buruk. Semuanya kembali kepada bagaimana “memanage”.

Di jaman yang serba terbuka sekarang, akses informasi terbuka tanpa batas. Anak-anak, bahkan balita, sudah terbiasa mengoperasikan gadget. Isi tayangan televisi pun sudah kacau. Terlalu banyak hal-hal negatif yang terekspos. Entah karena banyak kejadian negatif maka terekspos, atau karena terekspos menimbulkan banyak kejadian negatif. Tawuran, genk, cabe-cabean hanyalah sebagian kecil “racun” untuk anak-anak.

Informasi positif dan negatif semua bertebaran tak terbendung. Ilmu dan maksiat tersedia. Tinggal mau pilih mana.

Pada masa ini, akhlaq dan perilaku menjadi penentu “keselamatan”. Sementara ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja. Tidak hanya dari sekolah formal.

Lantas, relakah bila menyerahkan pengasuhan dan pendidikan (bukan sekedar transfer pengetahuan) ke orang lain?

Ditambah dengan kualitas pergaulan yang makin tidak jelas. Eits, jangan pernah salahkan lingkungan, TV, internet jika anak jadi “gak jelas”. Orang tuanya lah yang berperan membentuk mereka.

Mungkin sudah waktunya cara “menyekolahkan” anak berubah. Mungkin perlu lebih banyak kedekatan dengan anak, agar mereka tidak menjadi yatim piatu saat orangtuanya masih komplit.

“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” (Umar bin Khoththob ra)

Jempol Aedes Aegypti : Smartphone for Stupid People

Catatan : Tulisan ini tidak ditujukan untuk menghakimi siapapun, kecuali sebagai pengingat terhadap diri sendiri. Mengapa saya publish? Agar sebagai pengingat juga bagi siapa saja yang membaca.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. AL ‘Ashr : 1-3)

Begitu cepatnya informasi beredar. Mungkin lebih cepat daripada tarikan nafas. Apalagi sekarang, smartphone semakin terjangkau. Semakin banyak yang punya. Internet semakin mudah. Akses informasi juga tinggal klik. Mau menyebarkan tinggal ‘share’. Belum lagi aplikasi chating-chating yang bisa nge-group. Sekali pencet, seperti spam, langsung bisa diterima banyak orang.

Sangat cepat berita menyebar. Bebas. Tanpa saringan. Nyaris tanpa kontrol. Satu-satunya pengendali adalah ‘Man behind the gun’, pemegang smartphone itu sendiri.

Sama seperti pedang. Di tangan yang ahli, bisa dimanfaatkan maksimum. Kapan harus digunakan, untuk apa, bagaimana caranya, apa konsekuensinya, semua tergantung pada pemegangnya. Jika pemegangnya tidak ahli, bisa-bisa malah mencelakakan diri sendiri dan banyak orang.

Bukan hanya pedang yang tajam, tapi juga lidah. Dan sekarang, dengan smartphone, maka jempol juga menjadi ‘tajam’. Dan setiap anggota tubuh kita akan diminta pertanggungjawaban-Nya, termasuk jempol.

Sering ada nasihat, ‘Mulutmu harimaumu’. Hati-hati dengan apa yang diucapkan. Sekali menyakiti orang, seperti paku yang tertancap di kayu. Mungkin bisa dicabut, tapi bekasnya tidak akan pernah hilang.

Maka jempol bisa menjadi ‘Jempolmu nyamuk Aedes Aegypti-mu’. Tampak kecil, namun dapat mematikan, dan mudah menyebar.

Rule yang saya terapkan ke diri sendiri :

1. Tidak mudah percaya 100% dengan informasi yang didapat. Percaya 100% hanya jika informasi itu dari Sang Maha Benar (Al-Qur’an. Itu pun kadang juga masih menafsirkan dipas-pas-in menuruti nafsu. Astaghfirullah.)

2. Pelitlah berbagi. Serius. Jangan mudah klik share, atau forward atas informasi yang belum dipastikan 100% kebenarannya. Selalu konfirmasi. Juga terhadap kabar yang nampak bermanfaat, seperti “PT. U akan menyumbangkan produknya… hubungi…”. Kalau ada yang bisa dikontak, kontak dulu. Kalau malas mengkonfirmasi, jangan diforward. Kita tidak ingin diminta pertanggungjawaban sebagai penyebar kabar bohong, kan?

Apalagi jika informasinya adalah gosip yang lagi hot. Entah itu gosip artis, politik, apalagi agama. Ingat, ‘gosip = digosok makin sip’.

3. Instalkan secara terus menerus di pikiran bawah sadar kita, bahwa segala sesuatu akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Apakah saya sudah sukses menjalankan ketiga langkah di atas? Ow ow, jangan salah. Sulit sekali! saya harus jujur mengakui. Hanya Allah yang Tahu. Ini adalah pelajaran seumur hidup. Dan ujiannya bisa sewaktu-waktu.

Kadang gatel banget pengen menyebarkan informasi yang saya dapat. Tapi kemudian terpikir, buat apa? Hanya untuk menunjukkan bawa ‘nih, gue lebih tahu duluan daripada elu!’. Please deh. Buat apa gitu, loh.

Atau kadang terbersit, ‘siapa tahu’ ini berguna bagi orang lain. Nah, kalau kita merasa ‘siapa tahu’ bisa berguna bagi orang lain, berikan informasi yang lengkap dan jelas. Yakinkan diri dulu bahwa informasi yang kita sampaikan valid. ‘Siapa tahu’ ternyata informasinya abal-abal dan mem-PHP-in orang saja?

Mari, jadi pengguna pintar smartphone. Kendali sepenuhnya ada di jempol kita.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan kami memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad IV/403 dari Abu Musa al Asy’ari. Dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Targhib wa al Tarhib I/121-122 no. 36)